ANALISIS PERBANDINGAN KINERJA KEUANGAN
SEBELUM DAN SESUDAH MERGER
BANK CIMB NIAGA
PERIODE JULI 2006 – SEPTEMBER 2008
Makalah ini disusun untuk memenuhi tugas
Mata Kuliah Manajemen Keuangan II
Disusun oleh :
Nur Hayati
213-14-018
PROGRAM STUDI PERBANKAN SYARIAH SI
FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS ISLAM
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Merger Bank Niaga dan Bank Lippo merupakan dampak dari diterapkannya aturan kepemilikan tunggal (Single Presence Policy/SPP) yang ditetapkan Bank Indonesia. Ketentuan SPP mewajibkan kepemilikan tunggal bagi pemegang saham pengendali dilebih dari satu bank. Oleh karena itu, Khazanah Berhad asal Malaysia selaku pemilik saham Bank CIMB Niaga dan Lippo Bank memutuskan untuk merger. Selain itu jika merger terlaksana, struktur permodalan akan semakin kokoh dengan asumsi Bank Niaga memiliki ekiuditas sebesar Rp. 5 triliun dan Bank Lippo sebesar Rp. 3,6 triliun, maka merger akan memiliki modal Rp. 8,7 triliun. Dengan modal sebesar itu, akan memberikan kredit tanpa harus khawatir terbentuk BMPK (Batas Maksimium Pemberian Kredit). Disamping itu, bank hasil merger juga akan lebih cepat memenuhi syarat Arsitektur Perbankan Indonesia (API) untuk menjadi bank berskala nasional yang mensyaratkan modal minimal sebesar 10 triliun. Merger itu juga akan melahirkan sinergi positif. Bank Lippo yang dikenal cukup kuat diusaha kecil menengah (UKM) dan sistem pembayaran (Payment Back), diyakini akan bisa menopang bisnis Bank Niaga sebagai pemain kuat disegmen korporat dan kredit perumahan. Kondisi yang ada adalah penetrasi kredit Bank Lippo masih amat rendah. Itu terbukti dari Loan to Deposit Ratio (LDR) yang hanya sekitar 50,7 %. Sedangkan di Bank Niaga sekitar 95 % dana masyarakat mengalir dalam bentuk kredit.
B. Rumusan Masalah
Seperti yang telah diuraikan pada latar belakang, maka penulis mengambil rumusan masalah sebagai berikut:
1. Bagaimana kinerja keuangan Bank CIMB Niaga sebelum dan sesudah merger?
2. Bagaimana perbandingan rata-rata kinerja keuangan Bank CIMB Niaga sebelum dan sesudah merger?
3. Bagaimana perkembangan Bank CIMB Niaga sebelum dan sesudah merger?
BAB II
PEMBAHASAN
A. Kinerja Keuangan Bank CIMB Niaga Sebelum dan Sesudah Merger
1. Kinerja Keuangan Bank Niaga Sebelum Merger
a. Capital Adequacy Ratio (CAR)
Rumus yang digunakan untuk menghitung rasio CAR adalah:
CAR = x 100%
Perhitungan permodalan berdasarkan CAR pada Bank Niaga periode Juli 2006 hingga September 2008 diketahui bahwa rata-rata rasio CAR adalah 16,49%, artinya Bank Niaga dapat menjaga keampuannya untuk menjamin aktiva berisiko dengan kecukupan modalnya, dimana setiap 100% aktiva tertimbang menurut resiko (ATMR) dapat dijamin oleh modal sebesar 16,49%. Rata-rata rasio CAR Bank Niaga sebelum merger lebih tinggi dibandingkan dengan ketetapan Bank Indonesia yaitu minimal 8%, hal ini menunjukkan bahwa kinerja keuangan Bank Niaga sebelum merger dari segi CAR adalah baik.
b. Neo Performing Loan (NPL)
Rumus yang digunakan untuk menghitung rasio NPL:
NPL = x 100%
Perhitungan kualitas aset berdasarkan neo performing loan pada Bank Niaga diketahui bahwa rata-rata rasio NPL adalah 4,3%, artinya Bank Niaga memiliki kredit bermasalah rata-rata sebesar 4,3% dari total kredit yang disalurkan. Rata-rata nilai NPL Bank Niaga lebih rendah dibandingkan dengan nilai maksimum yang ditetapkan Bank Indonesia yaitu sebesar 5%, maka kinerja keuangan Bank Niaga dari segi NPL adalah baik.
c. Biaya Operasi terhadap Pendapatan Operasi (BOPO)
Rumus BOPO:
BOPO = x 100%
Perhitungan BOPO pada Bank Niaga diketahui bahwa rata-rata rasio BOPO adalah 69,18%, artinya Bank Niaga menggunakan biaya operasional sebesar 69,18% untuk menghasilkan pendapatan operasionalnya. Rata-rata BOPO Bank Niaga lebih rendah dibandingkan dengan nilai yang ditetapkan oleh Bank Indonesia yaitu maksimum 92%, sehingga kinerja Bank Niaga adalah baik.
d. Return on Assets (ROA)
Rumus ROA:
ROA = x 100%
Rata-rata return on assets Bank Niaga sebesar 1,19%, artinya Bank Niaga mampu menghasilkan tingkat pengembalian sebesar 1,19% dari total aset yang dimilikinya. Semakin tinggi tingkat pengembalian yang dapat dihasilkan dari setiap aset yang dimiliki maka keuntungan yang didapat semakin besar.
e. Return on Equity (ROE)
Rumus ROE:
ROE = x 100%
Rata-rata return on equity Bank Niaga sebesar 7,01%, artinya Bank Niaga mampu menghasilkan laba dari setiap modal yang dimilikinya sebesar 7,01%. Semakin tinggi tingkat pengembalian yang dapat dihasilkan dari setiap aset yang dimiliki maka keuntungan yang didapat semakin besar.
f. Net Interest Margin (NIM)
Rumus NIM:
NIM = x 100%
Rata-rata NIM Bank Niaga sebesar 3,1%, artinya Bank Niaga mampu mengelola aktiva produktif untuk menghasilkan bunga bersih rata-rata sebesar 3,1%. Rata-rata NIM Bank Niaga lebih tinggi dibandingkan dengan nilai yang ditetapkan oleh Bank Indonesia yaitu minimum 2%, maka kinerja keuangan dengan perhitungan NIM adalah baik.
g. Loan to Deposit Ratio (LDR)
Rumus LDR:
LDR = x 100%
Rata-rata LDR Bank Niaga sebesar 19,42%, artinya Bank Niaga mampu mengimbangi kewajiban bank untuk segera memenuhi permintaan deposan yang ingin menarik kembali uangnya sebesar 19,42%. LDR minimum yang ditetapkan Bank Indonesia dari segi likuiditas adalah baik.
Kinerja keuangan Bank Niaga periode Juli 2006-September 2008 berdasarkan Rasio CAMEL berada diatas rata-rata rasio CAMEL yang ditetapkan Bank Indonesia, hal ini menunjukkan kinerja keuangan Bank Indonesia sebelum merger adalah baik dan sehat.
2. Kinerja Keuanga Bank Lippo Sebelum Merger
a. Capital Adequacy Ratio (CAR)
Rata-rata rasio CAR 20,80%, artinya Bank Lippo dapat menjaga kemampuannya untuk menjamin aktiva berisiko dengan kecukupan modalnya, dimana setiap 100% aktiva tertimbang menurut resiko (ATMR) dapat dijamin oleh modal sebesar 20,80%. Rata-rata CAR Bank Lippo sebelum merger lebih tinggi dibandingkan dengan ketetapan Bank Indonesia yaitu minimal 8%, hal ini menunjukkan bahwa kinerja keuangan Bank Lippo sebelum merger dari segi CAR adalah baik.
b. Neo Performing Loan (NPL)
Rata-rata rasio NPL adalah 3,41%, artinya Bank Lippo memiliki kredit bermasalah rata-rata sebesar 3,41% dari total kredit yang disalurkan. Rata-rata nilai NPL Bank Lippo lebih rendah dibandingkan dengan nilai maksimum yang ditetapkan Bank Indonesia yaitu sebesar 5%, maka kinerja keuangan Bank Lippo dari segi NPL adalah baik.
c. Biaya Operasi terhadap Pendapatan Operasi (BOPO)
Rata-rata rasio BOPO adalah 67,37%, artinya Bank Lippo menggunakan biaya operasional sebesar 67,37% untuk menghasilkan pendapatan operasionalnya. Rata-rata BOPO Bank Lippo lebih rendah dibandingkan dengan nilai yang ditetapkan oleh Bank Indonesia yaitu maksimum 92%, sehingga kinerja Bank Lippo dari segi BOPO adalah baik.
d. Return on Assets (ROA)
Rata-rata return on assets Bank Lippo sebesar 1,18%, artinya Bank Lippo mampu menghasilkan tingkat pengembalian sebesar 1,18% dari total aset yang dimilikinya. Semakin tinggi tingkat pengembalian yang dapat dihasilkan dari setiap aset yang dimiliki maka keuntungan yang didapat semakin besar.
e. Return on Equity (ROE)
Rata-rata return on equity Bank Lippo sebesar 6,38%, artinya Bank Niaga mampu menghasilkan laba dari setiap modal yang dimilikinya sebesar 6,38%. Semakin tinggi tingkat pengembalian yang dapat dihasilkan dari setiap aset yang dimiliki maka keuntungan yang didapat semakin besar.
f. Net Interest Margin (NIM)
Rata-rata NIM Bank Lippo sebesar 3,24%, artinya Bank Lippo mampu memaksimalkan pengelolaan aktiva produktif untuk menghasilkan bunga bersih rata-rata sebesar 3,24%. Rata-rata NIM Bank Lippo lebih tinggi dibandingkan dengan nilai yang ditetapkan oleh Bank Indonesia yaitu minimum 2%, maka kinerja keuangan dengan perhitungan NIM adalah baik.
g. Loan to Deposit Ratio (LDR)
Rata-rata LDR Bank Lippo sebesar 55,66%, artinya Bank Lippo mampu mengimbangi kewajiban bank untuk segera memenuhi permintaan deposan yang ingin menarik kembali uangnya sebesar 55,66%. LDR minimum yang ditetapkan Bank Indonesia adalah sebesar 50%, maka kinerja keuangan Bank Lippo dari segi likuiditas adalah baik.
Kinerja keuangan Bank Lippo periode Juli 2006-September 2008 berdasarkan Rasio CAMEL berada diatas rata-rata rasio CAMEL yang ditetapkan Bank Indonesia, hal ini menunjukkan bahwa kinerja keuangan Bank Lippo sebelum merger adalah baik atau bisa dikatakan sehat.
3. Kinerja Keuangan Bank CIMB Niaga Sesudah Merger
a. Capital Adequacy Ratio (CAR)
Rata-rata rasio CAR adalah 13,83%, artinya Bank CIMB Niaga dapat menjaga kemampuannya untuk menjamin aktiva berisiko dengan kecukupan modalnya, dimana setiap 100% aktiva tertimbang menurut risiko (ATMR) dapat dijamin oleh modal sebesar 13,83%. Rata-rata rasio CAR Bank CIMB Niaga sebelum merger lebih tinggi dibandingkan dengan ketetapan Bank Indonesia yaitu minimal 8%, hal ini menunjukkan bahwa kinerja keuangan Bank CIMB Niaga sebelum merger dari segi CAR adalah baik.
b. Neo Performing Loan (NPL)
Rata-rata rasio NPL adalah 3,71%, artinya Bank CIMB Niaga memiliki kredit bermasalah rata-rata sebesar 3,71% dari total kredit yang disalurkan. Rata-rata nilai NPL CIMB Niaga lebih rendah dibandingkan dengan nilai maksimum yang ditetapkan Bank Indonesia yaitu sebesar 5%, maka kinerja keuangan Bank CIMB Niaga dari segi NPL adalah baik.
c. Biaya Operasi terhadap Pendapatan Operasi (BOPO)
Rata-rata rasio BOPO adalah 77,52%, artinya Bank CIMB Niaga menggunakan biaya operasional sebesar 77,52% untuk menghasilkan pendapatan operasionalnya. Rata-rata BOPO Bank CIMB Niaga lebih rendah dibandingkan dengan nilai yang ditetapkan oleh Bank Indonesia yaitu maksimum 92%, sehingga kinerja Bank CIMB Niaga dari segi BOPO adalah baik.
d. Return on Assets (ROA)
Rata-rata Return on Assets Bank CIMB Niaga sebesar 1,14%, artinya Bank CIMB Niaga mampu menghasilkan tingkat pengembalian sebesar 1,14% dari total aset yang dimilikinya. Semakin tinggi tingkat pengembalian yang dapat dihasilkan dari setiap aset yang dimiliki maka keuntungan yang didapat semakin besar.
e. Return on Equity (ROE)
Rata-rata Return on Equity Bank CIMB Niaga sebesar 7,64%, artinya Bank Niaga mampu menghasilkan laba dari setiap modal yang dimilikinya sebesar 7,64%. Semakin tinggi tingkat pengembalian yang dapat dihasilkan dari setiap aset yang dimiliki maka keuntungan yang didapat semakin besar.
f. Net Interest Margin (NIM)
Rata-rata NIM Bank CIMB Niaga sebesar 3,19%, artinya Bank CIMB Niaga mampu memaksimalkan pengelolaan aktiva produktif untuk menghasilkan bunga bersih rata-rata sebesar 3,19%. Rata-rata NIM Bank CIMB Niaga lebih tinggi dibandingkan dengan nilai yang ditetapkan oleh Bank Indonesia yaitu minimum 2%, maka kinerja keuangan dengan perhitungan NIM adalah baik.
g. Loan to Deposit Ratio (LDR)
Rata-rata LDR Bank CIMB Niaga sebesar 91,87%, artinya Bank CIMB Niaga mampu mengimbangi kewajiban bank untuk segera memenuhi permintaan deposan yang ingin menarik kembali uangnya sebesar 91,87%. LDR minimum yang ditetapkan Bank Indonesia adalah sebesar 50%, maka kinerja keuangan Bank CIMB Niaga dari segi likuiditas adalah baik.
Kinerja keuangan Bank CIMB Niaga periode Oktober 2008-Desember 2010 berdasarkan Rasio CAMEL berada diatas rata-rata rasio CAMEL yang ditetapkan Bank Indonesia, hal ini menunjukkan bahwa kinerja keuangan Bank CIMB Niaga setelah merger adalah baik atau bisa dikatakan sehat.
B. Perbandingan Rata-Rata Kinerja Keuangan Bank CIMB Niaga Sebelum dan Sesudah Merger
1. Capital Adequacy Ratio (CAR)
Rata-rata rasio CAR sebelum merger adalah 18,64% dan rata-rata CAR sesudah merger adalah 13,83% . Terjadi penurunan rata-rata rasio CAR setelah merger, hal ini menunjukkan bahwa kinerja keuangan Bank CIMB Niaga dari segi CAR lebih baik sebelum merger. Rasio CAR sebelum dan sesudah merger berada diatas ketetapan minimal Bank Indonesia sebesar 8%, maka baik periode sebelum merger atau setelah merger kondisi CAR Bank CIMB Niaga dalam keadaan baik.
2. Neo Performing Loan (NPL)
Rata-rata rasio NPL sebelum merger adalah 3,85% dan rata-rata NPL sesudah merger adalah 3,71% . Terjadi penurunan rata-rata rasio NPL setelah merger, hal ini menunjukkan bahwa kinerja keuangan Bank CIMB Niaga dari segi NPL lebih baik sesudah merger. Rasio NPL sebelum dan sesudah merger berada dibawah ketetapan maksimal Bank Indonesia sebesar 5%, maka baik periode sebelum merger atau setelah merger kondisi NPL Bank CIMB Niaga dalam keadaan baik.
3. Biaya Operasi terhadap Pendapatan Operasi (BOPO)
Rata-rata rasio BOPO sebelum merger adalah 68,27% dan rata-rata BOPO sesudah merger adalah 77,52% . Terjadi kenaikan rata-rata rasio BOPO setelah merger, hal ini menunjukkan bahwa kinerja keuangan Bank CIMB Niaga dari segi BOPO lebih baik sebelum merger. Rasio BOPO sebelum dan sesudah merger berada dibawah ketetapan maksimal Bank Indonesia sebesar 92%, maka baik periode sebelum merger atau setelah merger kondisi BOPO Bank CIMB Niaga dalam keadaan baik.
4. Return on Assets (ROA)
Rata-rata rasio ROA sebelum merger adalah 1,18% dan rata-rata rasio ROA sesudah merger adalah 1,14% . Terjadi Penurunan rata-rata rasio ROA setelah merger, hal ini menunjukkan bahwa kinerja keuangan Bank CIMB Niaga dari segi ROA lebih baik sebelum merger.
5. Return on Equity (ROE)
Rata-rata rasio ROE sebelum merger adalah 6,70% dan rata-rata rasio ROE sesudah merger adalah 7,64% . Terjadi kenaikan rata-rata rasio ROE setelah merger, hal ini menunjukkan bahwa kinerja keuangan Bank CIMB Niaga dari segi ROE lebih baik sesudah merger.
6. Net Interest Margin (NIM)
Rata-rata rasio NIM sebelum merger adalah 3,17% dan rata-rata rasio NIM sesudah merger adalah 3,19% . Terjadi kenaikan rata-rata rasio NIM setelah merger, hal ini menunjukkan bahwa kinerja keuangan Bank CIMB Niaga dari segi NIM lebih baik sesudah merger. Rasio NIM sebelum dan sesudah merger berada diatas ketetapan minimal Bank Indonesia sebesar 2%, maka baik periode sebelum merger atau setelah merger kondisi NIM Bank CIMB Niaga dalam keadaan baik.
7. Loan to Deposit Ratio (LDR)
Rata-rata rasio LDR sebelum merger adalah 74,04% dan rata-rata rasio LDR sesudah merger adalah 91,87% . Terjadi kenaikan rata-rata rasio LDR setelah merger, hal ini menunjukkan bahwa kinerja keuangan Bank CIMB Niaga dari segi LDR lebih baik sesudah merger. Rasio LDR sebelum dan sesudah merger berada diatas ketetapan minimal Bank Indonesia sebesar 50%, maka baik periode sebelum merger atau sesudah merger kondisi LDR Bank CIMB Niaga dalam keadaan baik.
C. Perkembangan Bank CIMB Niaga Sebelum dan Sesudah Merger
1. Capital Adequacy Ratio (CAR)
Rata-rata Capital Adequacy Ratio Bank CIMB Niaga sebelum dan sesudah merger menunjukkan bahwa rasio CAR sebelum merger adalah 18,64% dan sesudah merger adalah 13,83%. Terjadi penurunan rata-rata rasio CAR setelah merger, hal ini menunjukkan bahwa kinerja keuangan Bank CIMB Niaga dari segi CAR lebih baik sebelum merger. Rasio CAR sebelum dan sesudah merger berada di atas ketetapan minimal Bank Indonesia sebesar 8%, maka baik periode sebelum merger atau setelah merger kondisi CAR Bank CIMB Niaga dalam keadaan baik.
2. Neo Performing Loan (NPL)
Rata-rata rasio Neo Performing Loan Bank CIMB Niaga sebelum dan sesudah merger menunjukkan bahwa rasio NPL sebelum merger adalah 3,85% dan sesudah merger adalah 3,71%. Terjadi penurunan rata-rata rasio NPL setelah merger, hal ini menunjukkan bahwa kinerja keuangan Bank CIMB Niaga dari segi NPL lebih baik setelah merger. Rasio NPL sebelum dan sesudah merger berada di bawah ketetapan maksimal Bank Indonesia sebesar 5%, maka baik periode sebelum merger atau setelah merger kondisi NPL Bank CIMB Niaga dalam keadaan baik.
3. Biaya Operasi terhadap Pendapatan Operasi (BOPO)
Rata-rata rasio BOPO Bank CIMB Niaga sebelum dan sesudah merger menunjukkan bahwa rasio BOPO sebelum merger adalah 68,27% dan sesudah merger adalah 77,52%. Terjadi kenaikan rata-rata rasio BOPO setelah merger, hal ini menunjukkan bahwa kinerja keuangan Bank CIMB Niaga dari segi BOPO lebih baik sebelum merger. Rasio BOPO sebelum dan sesudah merger berada di bawah ketetapan maksimal Bank Indonesia sebesar 92%, maka baik periode sebelum merger atau setelah merger kondisi BOPO Bank CIMB Niaga dalam keadaan baik.
4. Return on Assets (ROA)
Rata-rata rasio ROA sebelum dan sesudah merger Bank CIMB Niaga menunjukkan bahwa rasio ROA sebelum merger adalah 1,18% dan sesudah merger adalah 1,14%. Terjadi penurunan rata-rata rasio ROA setelah merger, hal ini menunjukkan bahwa kinerja keuangan Bank CIMB Niaga dari segi ROA lebih baik sebelum merger.
5. Return on Equity (ROE)
Rata-rata rasio ROE sebelum dan sesudah merger Bank CIMB Niaga menunjukkan bahwa rasio ROE sebelum merger adalah 6,70% dan rata-rata rasio ROE sesudah merger adalah 7,64%. Terjadi kenaikan rata-rata rasio ROE setelah merger, hal ini menunjukkan bahwa kinerja keuangan Bank CIMB Niaga dari segi ROE lebih baik sesudah merger
6. Net Interest Margin (NIM)
Rata-rata rasio NIM sebelum dan sesudah merger Bank CIMB Niaga menunjukkan bahwa rasio NIM sebelum merger adalah 3,17% dan sesudah merger adalah 3,19%. Terjadi kenaikan rata-rata rasio NIM setelah merger, hal ini menunjukkan bahwa kinerja keuangan Bank CIMB Niaga dari segi NIM lebih baik sesudah merger. Rasio NIM sebelum dan sesudah merger berada di atas ketetapan minimal Bank Indonesia sebesar 2%, maka baik periode sebelum merger atau setelah merger kondisi NIM Bank CIMB Niaga dalam keadaan baik.
7. Loan to Deposit Ratio (LDR)
Rata-rata rasio LDR sebelum dan sesudah merger Bank CIMB Niaga menunjukkan bahwa rasio LDR sebelum merger adalah 74,04% dan sesudah merger adalah 91,87%. Terjadi kenaikan rata-rata rasio LDR setelah merger, hal ini menunjukkan bahwa kinerja keuangan Bank CIMB Niaga dari segi LDR lebih baik sesudah merger. Rasio LDR sebelum dan sesudah merger berada diatas ketetapan minimal Bank Indonesia sebesar 50%, maka baik periode sebelum merger atau sesudah merger kondisi LDR Bank CIMB Niaga dalam keadaan baik.
BAB III
KESIMPULAN
Perkembangan kinerja keuangan Bank Niaga dan Bank Lippo sebelum dan sesudah merger:
1. Capital Adequacy Ratio
Rata-rata rasio CAR sebelum merger periode Juli 2006-September 2008 yaitu 18,64% dan rata-rata CAR sesudah merger Periode Oktober 2008-Desember 2010 yaitu 13,83%. Kinerja keuangan Bank CIMB Niaga dari segi CAR lebih baik sebelum merger.
2. Neo Performing Loan
Rata-rata rasio NPL sebelum merger periode Juli 2006-September 2008 yaitu 3,85% dan rata-rata NPL sesudah merger Periode Oktober 2008-Desember 2010 yaitu 3,71%. Kinerja keuangan Bank CIMB Niaga dari segi NPL lebih baik sesudah merger.
3. BOPO
Rata-rata rasio BOPO sebelum merger periode Juli 2006-September 2008 yaitu 68,27% dan rata-rata BOPO sesudah merger Periode Oktober 2008-Desember 2010 yaitu 77,52%. Kinerja keuangan Bank CIMB Niaga dari segi BOPO lebih baik sebelum merger.
4. Return on Assets
Rata-rata rasio ROA sebelum merger periode Juli 2006-September 2008 yaitu 1,18% dan rata-rata ROA sesudah merger Periode Oktober 2008-Desember 2010 yaitu 1,14%. Kinerja keuangan Bank CIMB Niaga dari segi ROA lebih baik sebelum merger.
5. Return On Equity
Rata-rata rasio ROE sebelum merger periode Juli 2006-September 2008 yaitu 6,70% dan rata-rata ROE sesudah merger periode Oktober 2008-Desember 2010 yaitu 7,64%. Kinerja keuangan Bank CIMB Niaga dari segi ROE lebih baik sesudah merger.
6. Net Interest Margin
Rata-rata rasio NIM sebelum merger periode Juli 2006-September 2008 yaitu 3,17% dan rata-rata NIM sesudah merger periode Oktober 2008-Desember 2010 yaitu 3,19%. Kinerja keuangan Bank CIMB Niaga dari segi NIM lebih baik sesudah merger.
7. Loan to Deposit Ratio
Rata-rata rasio LDR sebelum merger periode Juki 2006-September 2008 yaitu 74,04% dan rata-rata LDR sesudah merger periode Oktober 2008-Desember 2010 yaitu 94,87%. Kinerja keuangan Bank CIMB Niaga dari segi LDR lebih baik sesudah merger.
DAFTAR PUSTAKA
Djumena, 2009, 10 Bank Terbesar di Indonesia, Erlangga.
Payamta dan Sholikah, 2004, Pengaruh Merger dan akusisi Terhadap Kinerja perusahaan Perbankan di Indonesia, Jurnal Bisnis dan Manajemen, Vol.1, No.1.
Santoso, Rudy Tri, 2010, Pengaruh Merger dan Akusisi Terhadap Efisiensi Perbankan di Indonesia (Tahun 1998-2009), Jurnal Akuntansi dan Keuangan, Vol.12, No.2.
Santoso, Totok Budi, dan Sigit Triandaru, 2006, Bank dan Lembaga Keuangan Lain, Jakarta: Salemba Empat.
Sawir, Agnes, 2001, Analisis Kinerja Keuangan dan Perencanaan Keuangan Perusahaan, Jakarta: PT. Gramedia Pustaka Utama
Soewita, Benny, 2008, Pelaksanaan Single Presence Policy di Bank BUMN.
Tarmizi, Achmad dan Willyanto Kartiko Kusuma, 2003, Analisis Kinerja Keuangan Sebagai Indikator Dalam Memprediksi Potensi Kebangkrutan Perbankan Indonesia, Media Ekonomi Bisnis, Vol.XV, No.1.
Taswan, 2006, Manajemen Perbankan Konsep, Teknik, dan Aplikasi, Yogyakarta: UPP STIM YKPN.
Wibowo, Amin, dan Yulia Pakereng, 2001, Pengaruh Pengumuman Merger dan Akusisi terhadap Return Saham Perusahaan Akusitor dan Non Akusitor dalam Sektor Industri yang Sama di Bursa Efek Jakarta, Jurnal Ekonomi dan Bisnis Indonesia, Vol.16, No.4.
LAMPIRAN











































Tidak ada komentar:
Posting Komentar