FILSAFAT ILMU DAN SUBSTANSI FILSAFAT ILMU
Makalah ini disusun untuk memenuhi tugas mata kuliah Filsafat Ilmu
Disusun Oleh:
Nur Hayati
213-14-018
JURUSAN PERBANKAN SYARIAH S1
FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS ISLAM
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar belakang
Perkembangan ilmu pengetahuan yang semakin pesat sekarang ini, tidaklah menjadikan manusia berhenti untuk mencari kebenaran. Justru sebaliknya, semakin menggiatkan manusia untuk terus mencari dan mencari kebenaran yang berlandaskan teori-teori yang sudah ada sebelumnya untuk menguji sesuatu teori baru atau menggugurkan teori sebelumnya. Sehingga manusia sekarang lebih giat lagi melakukan penelitian-penelitian yang bersifat ilmiah untuk mencari solusi dari setiap permasalahan yang dihadapinya. Karena itu bersifat statis, tidak kaku, artinya ia tidak akan berhenti pada satu titik, tapi akan terus berlangsung seiring dengan waktu manusia dalam memenuhi rasa keingintahuannya terhadap dunianya.
Pengetahuan merupakan hasil proses dari usaha manusia untuk tahu. Berbedanya cara dalam mendapatkan pengetahuan tersebut serta tentang apa yang dikaji oleh pengetahuan tersebut membedakan antara jenis pengetahuan yang satu dengan yang lainnya. Pengetahuan dikembangkan manusia disebabkan dua hal utama yakni, pertama, manusia mempunyai bahasa yang mampu mengkomunikasikan informasi dan jalan pikiran yang melatarbelakangi informasi tersebut. Kedua adalah kemampuan berpikir menurut suatu alur kerangka berpikir tertentu. Secara garis besar cara berpikir seperti ini disebut penalaran. Filsafat ilmu memberikan pendasaran logis terhadap metode keilmuan. Setiap metode ilmiah yang dikembangkan harus dapat dipertanggungjawabkan secara logis-rasional, agar dapat dipahami dan dipergunakan secara umum.
Filsafat ilmu adalah bagian dari filsafat yang menjawab beberapa pertanyaan mengenai hakikat ilmu. Bidang ini mempelajari dasar-dasar filsafat, asumsi dan implikasi dari ilmu, yang termasuk di dalamnya antara lain ilmu alam dan ilmu sosial. Di sini, filsafat ilmu sangat berkaitan erat dengan epistemologi dan ontologi. Filsafat ilmu berusaha untuk dapat menjelaskan masalah-masalah seperti: apa dan bagaimana suatu konsep dan pernyataan dapat disebut sebagai ilmiah, bagaimana konsep tersebut dilahirkan, bagaimana ilmu dapat menjelaskan, memperkirakan serta memanfaatkan alam melalui teknologi.
B. Rumusan Masalah
1. Apa yang dimaksud dengan filsafat ilmu itu?
2. Bagaimana ciri-ciri filsafat ilmu?
3. Apa tujuan belajar filsafat ilmu?
4. Seperti apakah fungsi filsafat ilmu?
BAB II
PEMBAHASAN
A. Definisi Filsafat Ilmu
Filsafat berasal dari bahasa Yunani, yaitu Philosophia, kata berangkai dari kata Philein yang berarti mencintai, dan Sophia berarti kebijaksanaan. Philosophia berarti “cinta akan kebijaksanaan”. Orang yang berfilsafat atau orang yang melakukan filsafat disebut “filusuf” atau “filosof”, artinya pencinta kebijaksanaan.
Defenisi filsafat ilmu tidak terlepas dari kata filsafat dan ilmu. Filsafat adalah berfikir secara mendalam tentang sesuatu tanpa melihat dogma dan agama dalam mencari kebenaran sedang ilmu adalah pengetahuan tentang suatu bidang(pengetahuan) yang disusun secara bersistem menurut metode-metode tertentu, yang dapat digunakan untuk menerangkan gejala-gejala tertentu dibidang itu.
B. Ciri-ciri Filsafat Ilmu
1. Radikal, artinya berpikir sampai ke akar-akarnya, hingga sampai pada hakikat atau substansi yang dipikirkan.
2. Universal, artinya pemikiran filsafat menyangkut pengalaman umum manusia. Kekhususan berpikir kefilsafatan menurut Jespers terletak pada aspek keumumannya.
3. Konseptual, artinya merupakan hasil generalisasi dan abstraksi pengalaman manusia.
4. Koheren atau konsisten (runtut). Koheren artinya sesuai dengan kaidah-kaidah berpikir logis. Konsisten artinya tidak mengandung kontradiksi.
5. Sistematik, artinya pendapat yang merupakan uraian kefilsafatan itu harus saling berhubungan secara teratur dan terkandung adanya maksud atau tujuan tertentu.
6. Komprehensif, artinya mencakup atau menyeluruh. Berpikir secara kefilsafatan merupakan usaha untuk menjelaskan alam semesta secara keseluruhan.
7. Bebas, artinya sampai batas-batas yang luas, pemikiran filsafati boleh dikatakan merupakan hasil pemikiran yang bebas, yakni bebas dari prasangka-prasangka sosial, historis, kultural, bahkan relijius.
8. Bertanggungjawab, artinya seseorang yang berfilsafat adalah orang-orang yang berpikir sekaligus bertanggungjawab terhadap hasil pemikirannya, paling tidak terhadap hati nuraninya sendiri.
Berpikir, meneliti dan menganalisa adalah proses awal dalam memperoleh ilmu pengetahuan. Dengan berpikir, seseorang sebenarnya tengah menempuh satu langkah untuk medapatkan pengetahuan yang baru. Aktivitas berpikir akan membuahkan pengetahuan jika disertai dengan meneliti dan menganalisa secara kritis terhadap suatu obyek.
C. Tujuan Filsafat Ilmu
1. Mendalami unsure-unsur pokok ilmu, sehingga secara menyeluruh kita dapat memahami sumber, hakikat dan tujuan ilmu.
2. Memahami sejarah pertumbuhan, perkembangan, dan kemajuan ilmu di berbagai bidang, sehingga kita dapat gambaran tentang proses ilmu kontemporer secara historis.
3. Sarana pengujian penalaran ilmiah, sehingga orang menjadi kritis dan cermat terhadap kegiatan ilmiah. Maksudnya seorang ilmuwan harus memiliki sikap kritis terhadap bidang ilmunya sendiri, sehingga dapat menghindarkan diri dari sikap solipsistik, menganggap bahwa hanya pendapatnya yang paling benar.
4. Usaha merefleksi, menguji, mengkritik asumsi dan metode keilmuan. Sebab kecenderungan yang terjadi di kalangan ilmuwan modern adalah menerapkan suatu metode ilmiah tanpa memperhatikan struktur ilmu pengetahuan itu sendiri. Satu sikap yang diperlukan disini adalah menerapkan metode ilmiah yang sesuai atau cocok dengan struktur ilmu pengetahuan, bukan sebaliknya. Metode hanya saran berpikir, bukan merupakan hakikat ilmu pengetahuan.
5. Pendasaran logis terhadap metode keilmuan. Setiap metode ilmiah yang dikembangkan harus dapat dipertanggungjawabkan secara logis-rasional, agar dapat dipahami dan dipergunakan secara umum. Semakin luas penerimaan dan penggunaan metode ilmiah, maka semakin valid metode tersebut. Pembahasan mengenai hal ini dibicarakan dalam metodologi, yaitu ilmu yang mempelajari tentang cara-cara untuk memperoleh kebenaran.
6. Menjadi pedoman bagi para dosen dan mahasiswa dalam mendalami studi di perguruan tinggi, terutama untuk membedakan persoalan yang ilmiah dan non ilmiah.
7. Mendorong pada calon ilmuwan dan iluman untuk konsisten dalam mendalami ilmu dan mengembangkannya.
8. Mempertegas bahwa dalam persoalan sumber dan tujuan antara ilmu dan agama tidak ada pertentangan.
D. Fungsi Filsafat Ilmu
Filsafat ilmu merupakan salah satu cabang dari filsafat. Oleh karena itu, fungsi dari filsafat ilmu tidak bisa kita lepaskan dari fungsi filsafat secara keseluruhan, yakni:
1. Sebagai alat mencari kebenaran dari segala fenomena yang ada.
2. Mempertahankan, menunjang dan melawan atau berdiri sendiri terhadap pandangan filsafat lainnya.
3. Memberikan pengertian tentang cara hidup, pandangan hidup, dan pandangan dunia.
4. Menberikan ajaran tentang moral dan etika yang berguna dalam kehidupan.
5. Menjadi sumber inspirasi dan pedoman untuk kehidupan dalam berbagai aspek kehidupan seperti ekonomi, politik, hukum dan sebagainya.
Jadi, fungsi filsafat ilmu adalah untuk memberikan landasan filosofik dalam memahami berbagai konsep dan teori, disiplin ilmu dan membekali kamampuan untuk membangun teori ilmiah.Selanjutnya dikatakan pula, bahwa filsafat ilmu tumbuh dalam 2 fungsi yaitu sebagai confirmatory theories (berupaya mendeskripsikan relasi normative antara hipotesis dengan evidensi) dan theory of explanation yakni berupaya menjelaskan berbagai fenomena kecil ataupun besar secara sederhana.
E. Substansi Filsafat ilmu
1. Kenyataan atau fakta
Fakta atau kenyataan memiliki pengertian yang beragam, bergantung dari sudut pandang filosofis yang melandasinya:
a) Positivistik: berpandangan bahwa sesuatu yang nyata bila ada korespondensi antara yang sensual satu dengan sensual lainnya.
b) Fenomenologik: memiliki dua arah perkembangan mengenai pengertian kenyataan ini. Pertama, menjurus ke arah teori korespondensi yaitu adanya korespondensi antara ide dengan fenomena. Kedua, menjurus ke arah koherensi moralitas, kesesuaian antara fenomena dengan system nilai.
c) Rasionalistik: menganggap suatu sebagai nyata, bila ada koherensi antara empirik dengan skema rasional.
d) Realisme-metafisik: berpendapat bahwa sesuatu yang nyata bila ada koherensi antara empiri dengan obyektif.
e) Pragmatisme: memiliki pandangan bahwa yang ada itu yang berfungsi.
2. Kebenaran
a) Kebenaran koherensi
Kebenaran koherensi yaitu adanya kesesuaian atau keharmonisan antara sesuatu yang lain dengan sesuatu yang memiliki hirarki yang lebih tinggi dari sesuatu unsur tersebut, baik berupa skema, sistem, atau pun nilai.
b) Kebenaran korespondensi
Berfikir benar korespondensial adalah berfikir tentang terbuktinya sesuatu itu relevan dengan sesuatu lain. Koresponsdensi relevan dibuktikan adanya kejadian sejalan atau berlawanan arah antara fakta dengan fakta yang diharapkan, antara fakta dengan belief yang diyakini, yang sifatnya spesifik.
c) Kebenaran peformatif
Ketika pemikiran manusia menyatukan segalanya dalam tampilan aktual dan menyatukan apapun yang ada dibaliknya, baik yang praktis yang teoritik, maupun yang filosofik, orang mengetengahkan kebenaran tampilan aktual. Sesuatu benar bila memang dapat diaktualkan dalam tindakan.
d) Kebenaran Pragmatif
Yang benar adalah yang konkret, yang individual dan yang spesifik dan memiliki kegunaan praktis.
e) Kebenaran Proposisi
Proposisi adalah suatu pernyataan yang berisi banyak konsep kompleks, yang merentang dari yang subyektif individual sampai yang obyektif. Suatu kebenaran dapat diperoleh bila proposisi-proposisinya benar.
f) Kebenaran Structural Paradigmatik
Sesungguhnya kebenaran struktural paradigmatik ini merupakan perkembangan dari kebenaran korespondensi. Sampai sekarang analisis regresi, analisis faktor, dan analisis statistik lanjut lainnya masih dimaknai pada korespondensi unsur satu dengan lainnya. Padahal semestinya keseluruhan struktural tata hubungan itu yang dimaknai, karena akan mampu memberi eksplanasi atau inferensi yang lebih menyeluruh.
3. Konfirmasi
Salah satu fungsi dari filsafat ilmu ialah konfirmasi. Yang dimaksud dengan fungsi ini ialah menjelaskan, memprediksi proses dan produk selanjutnya, atau memberikan pemaknaan. Pemaknaan bisa ditampilkan sebagai konfirmasi mutlak atau biasa disebut probalistik.
4. Logika Inferensi
Menurut kamus besar logika adalah jalan berfikir yang masuk akal sedangkan inferensi adalah kesimpulan. Jadi logika inferensi merupakan cara berfikir dengan akal yang sehat untuk memperoleh kesimpulan.
BAB III
PENUTUP
Kesimpulan
Seseorang yang secara benar yang memahami filsafat sebagai salah satu ilmu berarti seseorang tersebut mampu mengetahui fungsi dan filsafah hidup yang dapat membenarkan dampak secara langsung untuk pembenaran dalam kehidupan kita sehari-hari
Filsafat ilmu merupakan bagian dari filsafat pengetahuan yang secara spesifik mengkaji hakikat ilmu ( pengetahuan ilmiah )
Dari hakikat berfikir ilmiah maka kita dapat menyimpulkan beberapa karakteristik dan ilmu. Pertama ialah bahwa ilmu mampercayai rasio sebagai alat untuk mendapatkan pengetahuan yang benar, kedua alur jalan pikiran yang logis yang konsisten dengan pengetahuan yang telah ada, ketiga yakni pengujian secara empiris sebagai kriteria kebenaran objektif, ke empat yakni mekanisme yang terbuka terhadap koreksi
Arah dari filsafash ilmu adalah mengarahkan seseorang untuk mengkaji filsafat lebih dalam tentang “benar-salah”, ”baik-buruk”, dan “indah-jelek” yang masing-masing sifat tersebut dapat mengarahkan seseorang ahli filsafat untuk mengetahui tentang filsafat ilmu.
DAFTAR PUSTAKA
Bakhtiar, Amsal. 2011. Filsafat Ilmu. Bandung: PT Raja Grafindo Persada.
Bakhtiar, Amsal. 2004. Filsafat Ilmu. Jakarta: PT Raja Grafindo.
SuriaSumantri, Jujun. S. 2003. Filsafat Ilmu Sebuah Pengantar Populer. Jakarta: Pustaka Sinar Harapan.
Nasution, Hasyimsyah. 2002. Filsafat Islam. Jakarta: Gaya Media Pratama.
Verhaak. 1995. FIlsafat Ilmu Pengetahuan. Jakarta: Gramedia.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar